Selasa, 25 Desember 2012

Tips Mengetahui Kalkulator Asli atau Palsu

Anda pasti sudah mengetahui apa itu Kalkulator. Yup,
benda yang satu ini sangat membantu dalam
kehidupan manusia terutama dalam hal hitung
menghitung.
Ternyata Kalkulator itu ada yang
Asli dan ada yang Palsu. Sebenarnya bukan masalah
suku cadangnya yang Asli atau Palsu, tapi lebih bisa
dikatakan Pintar atau Tidak Pintar dalam hal
pembulatan angka dibelakang koma. Caranya sebagai
berikut :
Siapkan Kalkulator Anda, boleh juga Kalkulator yang
terdapat di Komputer/Laptop dan Kalkulator yang ada
di Ponsel. Selanjutnya tekan 2 : 3 x 3
Jika Hasilnya yang tertera adalah 1,99999999998
atau
2,00000000001 berarti Kalkulator Anda miliki Palsu/
Tidak Pintar.
Tapi kalau hasilnya 2 berarti Kalkulator yang Anda
miliki Asli/Pintar.
Penulis pun mencari sumbernya dari Ensiklopedi
Matematika.
Penjelasan :
Sekolah-sekolah di Indonesia pada zaman penjajahan
Belanda dahulu menggunakan cara berhitung yang
dikenal dengan rumus MVDWOA (Machtsverheffing,
Vermanigvuldiging, Delling, Worteltrekking,
Optelling, Aftrekking) yang artinya Pangkat, Kali,
Bagi, Akar, Tambah, Kurang.
Berhubung pada waktu itu di Sekolah Rakyat
(sekarang SD) tidak diajarkan Pangkat dan Akar,
maka rumus tersebut khususnya di Jawa terkenal
dengan nama PIPA LONDO (Ping, Para, Lan, Suda)
yang artinya Perkalian, Pembagian, Penjumlahan
dan Pengurangan.
Setelah Perang Dunia ke II, rumus MVDVOA sudah
tidak dipakai lagi di negara asalnya yakni Belanda,
sedangkan di Indonesia, dinyatakan tidak boleh
dipakai sejak dikeluarkannya Instruksi Kepala
Jawatan Pendidikan Umum Departemen P & K,
tanggal 2 April 1960.
Sejak saat itu pengerjaan berhitung menggunakan
prinsip-prinsip dan ketentuan sebagai berikut :
1. Pembagian adalah kebalikan dari Perkalian. Oleh
karena itu Pembagian dan Perkalian mempunyai
kedudukan dan derajat yang sama.
2. Pengurangan adalah kebalikan dari Penjumlahan,
jadi juga mempunyai kedudukan yang sederajat.
Ketentuan ini tidak menjelaskan mana yang lebih
penting dan mana yang harus didahulukan. Dalam
prakteknya hanya dijelaskan bahwa mengalikan/
membagi lebih dulu dikerjakan daripada menjumlah/
mengurangkan.
Hal ini dipakai pada sekolah-sekolah di Indonesia
sampai dengan tahun 1971.
Jadi menurut ketentuan tersebut, perhitungan » 100 :
2 + 5 x 2 = 50 + 10 = 60
Di beberapa negara Eropa dan Amerika, termasuk
Australia berlaku perjanjian sebagai berikut :
1. Bila suatu kalimat hanya memuat Penjumlahan
dan Pengurangan saja maka penyelesaiannya
dilakukan urut dari kiri ke kanan.
Contoh » 8 + 5 – 3 = 13 – 3 = 10
2. Bila suatu kalimat hanya memuat Perkalian dan
Pembagian saja, maka penyelesaiannya dilakukan
urut dari kiri ke kanan.
Contoh »100 : 2 : 5 x 3 = 50 : 5 x 3 = 10 x 3 = 30
3. Bila kalimat itu memuat Perkalian/Pembagian dan
Penjumlahan/Pengurangan maka penyelesaiannya
dilakukan dengan mengerjakan perkalian/pembagian
terlebih dahulu daripada Penjumlahan/Pengurangan.
Contoh » 3 x 4 x 5 – 15 : 3 = 60 – 5 = 55
Di Indonesia sejak tahun 1971 sampai sekarang ada
perjanjian bahwa apabila tidak ada/memakai tanda
kurung maka yang terlebih dahulu harus didahulukan.
Contoh » 3 x 4 x 5 – 15 : 3 = 60 – 15 : 3 = 45 : 3 = 15
Sedangkan jika dikehendaki Perkalian dan
Pembagian didahulukan maka kalimatnya harus » (3
x 4 x 5) – ( 15 : 3) = 60 – 5 = 55
Demikian urutan pengerjaan yang benar.
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jangan oot n spam, ok!